Mengukur Apa yang Penting: Bagaimana Angkatan Laut Menyelaraskan Metrik dengan Keberhasilan Misi

Di dunia perusahaan modern saat ini—baik di sektor swasta maupun pemerintah—ada kesepakatan hampir universal: data adalah raja.

Berkat kemajuan dalam penyimpanan data dan kekuatan pemrosesan serta penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) yang terus berkembang, kita kini dapat mengumpulkan dan menganalisis lebih banyak data daripada sebelumnya. Namun, faktor-faktor ini juga menyebabkan ketidakefisienan dalam cara banyak organisasi mengumpulkan dan menganalisis data mereka.

 

Tantangan Overload Data

Ada tren saat ini untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data, menyatukannya dalam sebuah data lake atau data ocean, dan kemudian berharap data scientist dapat memahaminya nanti. Pendekatan ini telah menyebabkan pendekatan yang sangat sempit dalam menganalisis data berdasarkan apa yang tampak langsung dan berdasarkan bias pengalaman serta fokus organisasi para data scientist. Meskipun metode ini dapat menghasilkan grafik yang menarik dan merangsang percakapan yang berguna, hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah analisis tersebut benar-benar relevan dengan misi yang dihadapi?

Untuk menghindari terjebak dalam samudra data dan tersesat di laut, organisasi perlu mengubah cara mereka dalam mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan data. Proses ini dimulai dengan mendefinisikan hasil misi yang penting dan menentukan metrik yang memberikan wawasan berarti tentang prioritas misi tersebut. Dengan menyelaraskan dengan misi, organisasi dapat fokus pada pengukuran hal-hal yang benar-benar penting sembari menyaring kebisingan dari data yang menarik namun pada akhirnya kurang berguna.

 

Cetak Biru Angkatan Laut untuk Metrik yang Berfokus pada Misi

Contoh yang sangat baik dari pendekatan ini dapat ditemukan dalam program World Class Alignment Metrics (WAMS) yang dikembangkan oleh Tim PEO Digital Angkatan Laut AS. Dengan mengadopsi WAMS, Angkatan Laut kini hanya fokus pada metrik yang memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti terkait dengan lima hasil misi yang telah mereka tentukan sebagai penggerak paling efektif untuk perbaikan berkelanjutan. Setiap metrik yang diusulkan untuk diukur akan dievaluasi untuk memastikan bahwa itu sesuai dengan satu atau lebih hasil misi. Jika keselarasan yang valid tidak dapat ditemukan, maka metrik tersebut tidak akan diukur.

Lima hasil misi dari WAMS adalah:

  1. Waktu Pengguna yang Hilang
  2. Ketahanan Operasional
  3. Adaptabilitas/Mobilitas
  4. Kepuasan Pelanggan
  5. Biaya per Pengguna

Dengan hanya fokus pada metrik yang dapat diringkas dalam hasil misi ini, tim PEO Digital telah mampu membawa perubahan nyata bagi para pelaut dan pegawai sipil yang mereka dukung. Misalnya, mereka berhasil mengurangi waktu booting rata-rata pada perangkat pengguna akhir dari lebih dari 13 menit menjadi kurang dari 2 menit—secara signifikan mengurangi frustrasi pelanggan dan meningkatkan produktivitas. Alat krusial dalam proses ini adalah Riverbed Aternity, yang membantu menangkap dan menganalisis data yang relevan.

Salah satu hal yang paling mengesankan tentang program WAMS Angkatan Laut adalah cara strategis mereka mengembangkannya. Alih-alih bekerja dalam ruang vakum, tim bekerja sama dengan salah satu firma konsultan IT terkemuka di negara ini dan kemudian mengidentifikasi lima organisasi yang mencapai perbaikan kinerja TI kelas dunia dan transformasi digital: Walmart, JP Morgan Chase, Microsoft, FedEx, dan Angkatan Udara AS. Mereka kemudian menerapkan sejumlah pelajaran yang mereka pelajari dari organisasi-organisasi ini ketika mengembangkan metodologi untuk WAMS.

Metodologi Angkatan Laut menggunakan pendekatan yang disiplin dan konsisten dalam pengukuran kinerja:

  1. Tentukan baseline untuk setiap metrik kunci.
  2. Definisikan tingkat kinerja yang diharapkan (atau target).
  3. Ukur kinerja aktual.
  4. Bandingkan hasilnya dengan benchmark eksternal.

Progres dievaluasi setiap kuartal, dengan metrik dan metode yang dikaji ulang dua kali setahun untuk memastikan adanya perbaikan berkelanjutan.